Hujan Daun-Daun

Hujan Daun-Daun

Akhir-akhir ini, tidur Tania nyaris tak pernah nyenyak. Malam-malamnya diisi mimpi yang sama, tentang gadis kecil berbaju biru, pohon besar yang kokoh, dan dedaunan yang berguguran. Dan seiring ulang tahunnya yang semakin dekat, mimpi itu semakin sering mengganggu.Di satu sisi, ia bersemangat menyambut ulang tahun yang hanya bisa dirayakannya empat tahun sekali, tepat pada...

DownloadRead Online
Title:Hujan Daun-Daun
Author:Lidya Renny Ch.
Rating:
Edition Language:Indonesian

Hujan Daun-Daun Reviews

  • Titi Iskandar

    Menjelang ulang tahunnya di penghujung Februari, yang hanya bisa ia rayakan empat tahun sekali itu, Tania sering memimpikan mimpi yang sama. Tentang daun-daun yang berguguran dari sebuah rain tree dan seorang anak perempuan mengenakan gaun biru muda yang selalu hadir dalam mimpinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tania meyakini bahwa di hari ulang tahunnya kali ini pun akan terjadi sebuah peristiwa besar, yang menurut Stella, sahabatnya hanyalah sebuah kebetulan. Tapi Tania sangat yakin, bahwa

    Menjelang ulang tahunnya di penghujung Februari, yang hanya bisa ia rayakan empat tahun sekali itu, Tania sering memimpikan mimpi yang sama. Tentang daun-daun yang berguguran dari sebuah rain tree dan seorang anak perempuan mengenakan gaun biru muda yang selalu hadir dalam mimpinya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tania meyakini bahwa di hari ulang tahunnya kali ini pun akan terjadi sebuah peristiwa besar, yang menurut Stella, sahabatnya hanyalah sebuah kebetulan. Tapi Tania sangat yakin, bahwa mimpinya tersebut bukan sekadar bunga tidur, seakan ada tanda lain di balik mimpinya tersebut. Mimpinya itu seolah berusaha menunjukkannya tentang suatu hal mengenai kehidupan masa lalu keluarganya, ayah dan ibunya yang tidak pernah ia ketahui.

    Selama ini, Tania hanya mengenal kakek dan neneknya. Kedua orang tersebut yang telah membesarkan Tania. Sedangkan ayah dan ibunya hanya ia kenal lewat sebuah foto lama dalam pigura yang Tania taruh di atas nakas di kamarnya. Tania tidak benar-benar mengenal orangtuanya sendiri, bahkan kakek dan neneknya pun seperti menyembunyikan rahasia besar tentang orangtua Tania. Yang Tania tahu hanyalah kedua orangtuanya meninggal ketika ia masih sangat kecil.

    Mimpi itu terus hadir hingga datang seorang wanita paruh baya menemui Tania dan mengungkap rahasia keluarganya yang selama ini ingin Tania ketahui, yang tidak pernah ia dapatkan setiap ia bertanya kepada kakek dan neneknya sendiri. Satu per satu jawaban atas pertanyaan Tania mulai terjawab, bahwa ayahnya adalah seorang pelukis ternama bernama Alex Wibowo dan ibunya wanita cantik yang sangat memerhatikan penampilan bernama Lukita, anak satu-satunya kakek dan nenek Tania. Selain mengungkap masa lalu Alex dan Lukita, Meilia, wanita paruh baya itu pun membawa serta sebuah lukisan yang menjadi warisan dari Alex untuk Tania. Berkat mimpi dan lukisan tersebut, Tania mengurai masa lalu keluarganya.

    Alex tak benar-benar mencintai Lukita. Sebelumnya, ia telah memiliki pujaan hati, Meilia. Alex meninggalkan Lukita bersama anak mereka untuk pergi (atau kawin lari, lebih tepatnya) bersama Meilia. Alex membawa salah satu putrinya dengan Lukita, Tiana, bersama dirinya dan Meilia. Setelah tahu Alex pergi meninggalkannya, Lukita yang sangat mencintai Alex memutuskan bunuh diri. Dan Tania, bayinya satu lagi, Lukita titipkan kepada kedua orangtuanya.

    Buat yang penasaran dengan akhir cerita atau yang belum baca novel yang ditulis "keroyokan" ini, langsung pesan di toko buku online atau cari di toko buku-toko buku besar sekitaran rumahmu ya, Guys! (semoga masih ada)

    Setelah membaca novel ini, saya menemukan beberapa kata yang ditulis secara inkonsisten, seperti kata "tidak" dan "nggak" yang sering berubah-ubah. Kadang memakai "tidak" tapi pada bagian yang lain memakai "tidak". Kesalahan ketik saya temui juga di beberapa bagian dalam novel ini, tapi (untungnya) tidak terlalu banyak, seperti spasi antara titik dan kata pertama awal kalimat selanjutnya, kata yang ditulis berulang dalam satu kalimat, dan nama tokoh utama yang kebetulan diceritakan kembar yang sering tertukar, antara Tania dan Tiana.

    Tapi secara keseluruhan saya menikmati alur ceritanya. Walau ditulis dengan alur campuran, peralihan alur pada setiap bab masih bisa diikuti dan tidak membuat pembaca kebingungan dalam menentukan mana alur utama dan mana alur pendukungnya. Ceritanya dikemas sederhana, tapi terdapat kejutan di beberapa bagian yang membuat pembaca penasaran ingin membuktikan dugaannya benar atau salah. Untuk saya pribadi, saya diajak merasakan kembali bagaimana serunya jatuh hati pada seseorang. Meski bagian itu bukanlah menjadi fokus utama novel ini, tapi kehadirannya sebagai bagian cerita terasa menjadi bumbu penyedap yang pas. Saya sampai senyum-senyum sendiri ketika sampai ending-nya. Manis dan tidak berlebihan.

    Judul: Hujan Daun-daun

    Penulis: Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, dan Putra Zaman

    Penerbit: Gramedia

    Tahun: 2014

    Halaman: 248 halaman

    ISBN: 978-602-03-0376-5

  • Putri Kurnia Nurmala

    Pertamanya, sih, nggak kebayang satu novel bisa ditulis oleh banyak penulis. Satu kepala aja idenya tumpah kemana-mana kalau nggak dibatasi outline. Gimana kalau ide hasil dari tiga kepala sekaligus?

    Yaaa untungnya ide awal hanya digagas oleh satu orang, Mbak Clara Ng. Tapi masih bener-bener nggak kepikiran, lah, gimana tiga penulis ini menyatukan pandangannya terhadap idel awal yang dikasih sampai akhirnya novel ini benar-benar terlahir. Salut!

    Sampulnya memikat. Dari segi layout, GPU memang ngga

    Pertamanya, sih, nggak kebayang satu novel bisa ditulis oleh banyak penulis. Satu kepala aja idenya tumpah kemana-mana kalau nggak dibatasi outline. Gimana kalau ide hasil dari tiga kepala sekaligus?

    Yaaa untungnya ide awal hanya digagas oleh satu orang, Mbak Clara Ng. Tapi masih bener-bener nggak kepikiran, lah, gimana tiga penulis ini menyatukan pandangannya terhadap idel awal yang dikasih sampai akhirnya novel ini benar-benar terlahir. Salut!

    Sampulnya memikat. Dari segi layout, GPU memang nggak pernah aneh-aneh. Minimalis. Dari segi isi, aliran katanya mengalir halus aja. Tapi kadang memang ada sedikit kerikil-kerikil yang menghambat aliran itu, mulai dari penggunaan kata yang tidak konsisten, sedikit typo, tidak adanya keterangan antar waktu dan terlalu banyak ide yang dituangkan. Pembeda antara narasi&dialog masa kini dan lampau menurutku keberadaannya cukup penting agar pembaca nyaman. Dan terlalu banyak ide menjadikan banyak sekali kejutan-kejutan di akhir cerita dan beberapa kejadian di awal yang dibiarkan begitu saja. Overall, aku suka penuturan kata-kata di buku ini. Terasa banget perbedaan perbedaan tutur berceritanya. Ada yang lugas, ada yang puitis, ada yang ftv banget. A nice book!

    Btw, congrats Kak Put yang udah lahiran buku kedua. Semoga next book bisa solo, ya. :D

  • Natha

    Jarang-jarang neh nemu buku yang dari sinopsisnya saja sudah bikin mupeng. X)

    -------------------------------------

    Secara teknis, aku baru membaca buku ini jam 5 pagi tadi dan selesai jam 7 pagi. Cukup cepat, tetapi tetap mendapatkan sesuatu dari proses membaca itu. Aku tidak ingin membandingkan buku ini dengan buku-buku hasil karya anak GWP yang lainnya, karena semuanya punya ciri khas masing-masing, tetapi dengan selesainya buku ini, satu hal yang sangat aku apresiasi, yaitu... sang pemilik ide

    Jarang-jarang neh nemu buku yang dari sinopsisnya saja sudah bikin mupeng. X)

    -------------------------------------

    Secara teknis, aku baru membaca buku ini jam 5 pagi tadi dan selesai jam 7 pagi. Cukup cepat, tetapi tetap mendapatkan sesuatu dari proses membaca itu. Aku tidak ingin membandingkan buku ini dengan buku-buku hasil karya anak GWP yang lainnya, karena semuanya punya ciri khas masing-masing, tetapi dengan selesainya buku ini, satu hal yang sangat aku apresiasi, yaitu... sang pemilik ide dari ketiga buku ini! XD Wow, mantapz! :))

  • Idawati Zhang

    Sama. Nggak bisa nggak bias juga sama yg ini karena kenal yg nulis hihihi. Satu hal, salut juga. Yg nulis 2 cowok 1 cewek. Tapi bisa bikin karakter cewek sebagai tokoh utamanya dengan pas. Cewek banget maksudnya.

    Protesnya satu. Kenapa nama anak kembar musti mirip-mirip sih. Ketuker melulu X). Ada beberapa pertanyaan lain tapi japri aja ah.

    Looking forward for their solo novel :)

  • Ifa Inziati

    N.B.: Saya mengetik ini sambil menonton Persib vs Persija (ini maksudnya hal-hal remeh)

    Sebelumnya, halo, Entendu! Akhirnya saya selesai baca anak yang sudah kamu lahirkan ini (setidaknya menerbitkan buku jadi satu-satunya kesempatan laki-laki melahirkan). Cantik, pula. Memang mirip dengan sampul Montase tapi saya lebih suka yang ini, lebih

    . Terima kasih sudah mengirimkan buku ini langsung. Saya bersyukur

    N.B.: Saya mengetik ini sambil menonton Persib vs Persija (ini maksudnya hal-hal remeh)

    Sebelumnya, halo, Entendu! Akhirnya saya selesai baca anak yang sudah kamu lahirkan ini (setidaknya menerbitkan buku jadi satu-satunya kesempatan laki-laki melahirkan). Cantik, pula. Memang mirip dengan sampul Montase tapi saya lebih suka yang ini, lebih

    . Terima kasih sudah mengirimkan buku ini langsung. Saya bersyukur dan senang bisa menang

    -nya.

    (dan tulisan tangan kamu lebih bagus daripada saya, seriusan.)

    Sekarang, lanjut ke ulasan novel ini. Biar lebih gampang, saya tulis dengan poin-poin saja.

    1. Sampul dan desain isi

    Suka. Sederhana, nggak muluk, nggak alay, nggak norak. Menarik, ditambah

    yang memikat.

    2. Alur

    Awalnya agak membingungkan. Dan kerasa mutar-mutar. Saya kayak nggak dikasih jeda napas sebentar karena tahu-tahu kamera men-zoom out-zoom in saya yang berkata, 'APA?!' padahal saya butuh menepuk bahu Tania dulu barang sejenak.

    Tapi, begitu 'petualangan' Tania dimulai, saya baru bisa rileks dan menikmati pencariannya. Saya selalu suka tema kepo seperti ini. Bikin deg-degan untuk tahu selanjutnya.

    3. Karakter dan hubungannya

    Saya suka Stella, tipe orang yang harus kita jaga baik karena jarang ada sahabat seperti itu.

    Saya bingung sama Lukita, yang katanya cinta mati tapi ga setuju diajak 'melarat'.

    Interaksi Tania-Adrian

    banget, mengingatkan saya sama zaman SMA dulu, karena cowok Bandung nggak ada yang kayak gitu haha.

    Gaya bahasa yang dipakai Kakek dan Nenek terasa asing, setidaknya untuk saya.

    4. Latar

    Saya yakin, seyakin-yakinnya, kalau adegan berlatar UI pasti ditulis sama Entendu. Jelas banget.

    5. Lain-lain

    Inkonsistensi, tapi nggak begitu mengganggu, kok.

    Hal lain yang saya suka: dialog para tokoh anak kuliahannya, dapet banget. Semuanya kosakata saya dan bikin saya makin kangen Bekasi.

    Saya jadi bertanya-tanya, apa bakal ada Warna Tua Daun-Daun habis ini? Mungkin bisa diteruskan, sebagai solo? Cuma saran aneh sebetulnya haha.

  • Yunita Ramadayantie saragi

    REVIEW NOVEL HUJAN DAUN-DAUN

    Penulis: Lidya Renny Chrisnawaty, Tsaki Daruchi, Putra Zaman

    Desain Cover: Marcel AW

    Editor: Nina Andiana

    Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, April 2014

    ISBN: 978 – 602 – 03 – 0376 – 5

    248 halaman; 20 cm

    Novel remaja karya tiga penulis jebolan ajang pencarian bakat Penulis Indonesia dalam Gramedia Writing Project ini cukup bisa menjadi bacaan remaja yang menarik. Novel ini mengisahkan tentang pencarian jati diri seorang gadis dua puluh tahun bernama Tania. Mimpi tentang d

    REVIEW NOVEL HUJAN DAUN-DAUN

    Penulis: Lidya Renny Chrisnawaty, Tsaki Daruchi, Putra Zaman

    Desain Cover: Marcel AW

    Editor: Nina Andiana

    Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, April 2014

    ISBN: 978 – 602 – 03 – 0376 – 5

    248 halaman; 20 cm

    Novel remaja karya tiga penulis jebolan ajang pencarian bakat Penulis Indonesia dalam Gramedia Writing Project ini cukup bisa menjadi bacaan remaja yang menarik. Novel ini mengisahkan tentang pencarian jati diri seorang gadis dua puluh tahun bernama Tania. Mimpi tentang dirinya dan seorang gadis berbaju biru yang sedang bermain di bawah pohon dengan daun berguguran menjadi pembuka novel setebal 248 halaman ini. Mimpi itu sering berulang sehingga mengganggu pikiran Tania.

    Pada awalnya, mungkin karena ini karya perdana atau bagaimana ada kebosanan yang melingkupi saat membacanya. Kejadian mimpi yang berulang dan dihubungkan dengan kejadian nyata merupakan sesuatu yang sudah sering dipakai oleh penulis-penulis lain. Dalam awal-awal membaca perlu effort yang cukup keras untuk bisa mendapatkan ‘kesenangan’ dalam buku ini. Untungnya usaha yang cukup keras itu terbayar lunas di pertengahan novel hingga ending. Keasyikan dan keseruan konflik mulai terasa saat seorang wanita mencari Tania hingga ke kampusnya. Wanita itu adalah ibu tirinya. Darinya semua masa lalu Tania yang ditutup-tutupi kakek neneknya karena suatu hal mulai terkuak. Konflik dihadirkan padat dari pertengahan hingga akhir.

    Kejadian-kejadian flash-back tentang kehidupan masa lalu orang tua Tania disisip di antara kejadian di masa sekarang. Cara ini membuat pembaca bisa dengan detail membayangkan kejadian di masa lalu. Mungkin karena novel ini ditulis oleh tiga orang penulis yang berbeda karakter dalam menulis, maka tak jarang pembaca mengalami ‘guncangan’. Sering didapati ‘rasa’ yang berbeda antara satu bab dengan bab yang lainnya. Ketika sedang asyik menikmati gaya bercerita pada satu bab, kemudian pada bab berikutnya akan menemukan gaya penulisan yang benar-benar berbeda. Ini membuat sedikit kurang nyaman.

    Di beberapa tempat juga masih ditemukan salah pengetikan, tapi masih dalam ambang batas kewajaran. Walau seharusnya diharapkan sudah tidak ada sama sekali kesalahan-kesalahan kecil semacam itu. Aroma percintaan yang dihadirkan juga kesannya hanya semacam tempelan. Well, mungkin seperti ada keharusan untuk cerita remaja harus ada unsur percintaannya. Hingga seperti dipaksakan. Sayang sekali itu menjadi tidak terlalu penting di sini. Tidak ada Adrian sebenarnya tidak masalah. Toh, ada Stella sosok sahabat sempurna yang sangat setia dan selalu menolong Tania. Kebanyakan si tokoh utama memperjuangkan segalanya sendirian. Perlu di-upgrade ulang pemikiran lama yang mengatakan novel remaja harus ada unsur cinta laki-laki dan perempuan. Kasih sayang antar sahabat juga bisa mengena, kok.

    Penyelesaian konfliknya juga sepertinya agak dipaksakan. Misalnya ketika Tania harus mencari saudara kembarnya Tiana yang kini berdomisili di Berkeley, Amerika. Tentu perlu modal yang cukup besar untuk pergi ke Amerika. Padahal tak dijelaskan dari awal bahwa kakek dan nenek Tania itu orang yang cukup berada. Penjelasan itu baru ada hampir di akhir cerita. Padahal tokoh Kakek Nenek sudah muncul pada awal sekali.

    Tania bisa sampai Amerika dengan mudah. Saat berdiri di depan rumah yang dicarinya, si pemilik rumah tepat baru pulang dari suatu tempat. Sungguh sebuah keberuntungan yang beruntun. Banyak segala yang kebetulan terjadi di novel ini. Jadi intinya untuk pembaca yang baru puas jika happy ending semacam saya ini pasti akan dibuai dengan penyelesaian yang ada.

    Untuk sebuah novel perdana, over-all ini layak baca! Pesannya tersampaikan. Bahwa masa lalu itu penting untuk mengenali siapa sebenarnya diri kita. Akan tetapi kita tak bisa memutar-balik waktu agar semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Apa yang terjadi sekarang harus dihadapi. Seperti kata Adrian di Epilog—finally Adrian ada gunanya juga,hehe.

    “Aku percaya bahwa hal-hal besar, yang terasa ajaib, walaupun sepertinya nggak masuk akal, nggak bisa diterima logika, sebenarnya selalu berputar di sekeliling kita. Tinggal gimana kita menangkapnya hingga keajaiban-keajaiban itu benar-benar terjadi dalam kehidupan kita. Sama seperti daun-daun yang gugur itu, angin nggak akan pernah berhenti bertiup, dan daun-daun itu nggak pernah tahu kapan mereka akan terlepas dari tangkai, tapi tanah akan selalu menerima mereka. Seperti kita yang juga harus selalu siap menerima keajaiban-keajaiban itu.”

    Barvo untuk ketiga penulisnya dan HAPPY READING!

    Medan, 23 Oktober 2014

  • Apsari Dicky

    ceritanya sangat menarik

  • akaigita

    Aku suka ide dasar buku ini. Tidak sedangkal persangkaanku di awal (sejujurnya kukira Adrian ada hubungannya dengan Meilia, ternyata enggak. Good job). Tentang perjuangan seorang gadis menguak rahasia keluarganya hingga pergi ke ujung dunia.

    Tapi itu enggak lantas membuatku merasa nyaman dengan buku ini sih. Dialognya, terutama. Banyak perulangan dan hal-hal yang mestinya dijabarkan lewat narasi tapi malah dijelasin lewat dialog yang terasa kurang pas menurutku.

    Meskipun demikian, untuk sebuah nov

    Aku suka ide dasar buku ini. Tidak sedangkal persangkaanku di awal (sejujurnya kukira Adrian ada hubungannya dengan Meilia, ternyata enggak. Good job). Tentang perjuangan seorang gadis menguak rahasia keluarganya hingga pergi ke ujung dunia.

    Tapi itu enggak lantas membuatku merasa nyaman dengan buku ini sih. Dialognya, terutama. Banyak perulangan dan hal-hal yang mestinya dijabarkan lewat narasi tapi malah dijelasin lewat dialog yang terasa kurang pas menurutku.

    Meskipun demikian, untuk sebuah novel yang dikerjakan oleh tiga orang, ini adalah proyek kolaborasi yang indah dan mulus. Suara ketiga penulis melebur jadi satu.

  • Wardah

    eTania sejak kecil diasuh kakek dan neneknya. Dari mereka, Tania tahu bahwa kedua orang tuanya telah lama meninggal sejak Tania kecil.

    Namun, belakangan Tania selalu bermimpi tentang dirinya di masa kecil. Mimpi itu tidak aneh, jika saja dalam mimpi Tania tidak bermain bersama seorang gadis seusianya yang persis sepertinya.

    Apakah mimpi itu hanya bunga tidur? Atau ada sesuatu di balik mimpi itu?

    Catatan tentang Hujan Daun-Daun:

    1. Saya pikir novel ini rada-rada horor klenik gegara mimpi-mimpi Tania,

    eTania sejak kecil diasuh kakek dan neneknya. Dari mereka, Tania tahu bahwa kedua orang tuanya telah lama meninggal sejak Tania kecil.

    Namun, belakangan Tania selalu bermimpi tentang dirinya di masa kecil. Mimpi itu tidak aneh, jika saja dalam mimpi Tania tidak bermain bersama seorang gadis seusianya yang persis sepertinya.

    Apakah mimpi itu hanya bunga tidur? Atau ada sesuatu di balik mimpi itu?

    Catatan tentang Hujan Daun-Daun:

    1. Saya pikir novel ini rada-rada horor klenik gegara mimpi-mimpi Tania, ternyata tidak sama sekali.

    2. Gaya penulisannya lumayan rapi. Alurnya juga. Ngga terasa ditulis oleh tiga orang bersamaan.

    3. Masa lalu orang tua Tania menarik dan menjadi hal yang membuat cerita ini berkembang juga. Sayang, saya nggak menemukan alasan kenapa kedua orang tua Tania menikah.

    4. Konflik utamanya menarik. Meski terasa rada sinetron (kawin lari, anak panti asuhan, ditipu teman, dll) dan diselesaikan dengan gimana ya, cepat banget gitu dan kurang adegan bicara dari hati ke hati sih, mengingat konfliknya begini kan ya. Sama emosi Tania kurang terasa di deskripsinya.

    ________________

    Kesimpulan: Novel ringan dengan konflik cukup kompleks dan karakter yang banyak (tapi penulis berhasil fokus sih jadi okelah).

    Direkomendasikan untuk: Pembaca buku yang ngga masalah sama jenis konflik sejenis ini.

Best Free Books is in no way intended to support illegal activity. Use it at your risk. We uses Search API to find books/manuals but doesn´t host any files. All document files are the property of their respective owners. Please respect the publisher and the author for their copyrighted creations. If you find documents that should not be here please report them


©2018 Best Free Books - All rights reserved.